Raih Peluang dengan kata-kata

Kini, Katakanlah dengan Kaos
Kaos bersablon kata-kata plesetan membuahkan jutaan

A. Reza Rohadian, Bayu Wardana (Yogyakarta), Iwan Hidayat (Surabaya)

Bisnis kaos bersablon kata-kata unik sedang digandrungi anak muda.
Para pembuatnya kini kecipratan rejeki. Betul, persaingannya cukup
tajam, tapi satu sama lain memiliki ciri khas tersendiri. Jadi, di
antara mereka tidak terjadi saling lindas.

Kata-kata ternyata bukan cuma ampuh merayu rakyat agar sudi mencoblos
salah satu parpol. Tapi, kata-kata pun lumayan sedap dipandang.
Buktinya, bisnis kaos oblong yang cuma menampilkan kata-kata, bukannya
gambar, kini laku keras. Para penciptanya sekarang boleh digolongkan
sebagai pengusaha sukses.
Bagaimana tidak? Berkat menjual kata-kata pada kaos oblong, beberapa
kelompok anak muda yang melakoni bisnis ini bisa menggaet fulus jutaan
rupiah per hari. Dagadu, misalnya. Saban hari, produsen kaos asal
Yogyakarta ini menggaet pemasukan Rp 5,5 juta. Duit segede itu
diperoleh dari penjualan 200 potong kaos plus aksesori lain yang juga
menampilkan kata-kata sebagai daya pikatnya. PT Mondrian yang
memproduksi kaos bermerek Dadung bahkan beromzet Rp 1,5 miliar per
bulan.
Bisnis ini rupanya tak hanya berkibar di Yogyakarta atau Bali yang
terkenal dengan kaos sejenis bermerek Joger (KONTAN, No. 11/II/1997).
Anak-anak muda Surabaya tampaknya juga menggandrungi kaos bersablon
kata-kata unik. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Java Suroboyo Cuk
(JSC) yang memproduksi kaos bermerek Cuk.
Memang, dari segi pemasukan JSC masih kalah dengan pesaingnya dari
Yogyakarta. Meski hanya meraih penghasilan rata-rata Rp 5 juta per
bulan, JSC tak bisa dipandang enteng oleh Dagadu maupun Dadung. Cuk,
yang berdiri dengan modal Rp 30 juta, kini telah memiliki dua counter
di dua plaza terbesar kota buaya: Delta Plaza dan Tunjungan Plaza,
yang masing-masing bertarif sewa Rp 2 juta dan Rp 1,5 juta. Bahkan,
dalam waktu dekat Cuk – dicomot dari umpatan khas Surabaya – bakal
membuka satu counter lagi di Tunjungan Plaza III.
Kunci sukses Dagadu, Dadung, maupun Cuk sederhana saja: menampilkan
desain yang selalu memperhatikan situasi dan kondisi yang ada dalam
masyarakat. “Kalau orang sibuk bikin partai, kami harus membikin
desain-desain yang ada kaitannya, meski dengan rasa humor,” tutur
Hajar, Kepala Promosi PT Mondrian. Singkatnya, “Harus peka terhadap
zaman lah,” ujarnya.
Mondrian yang berdiri 1992 awalnya lebih suka memproduksi kaos
bergambar. Namun, begitu melihat sukses Dagadu yang menjual kaos
bersablon kata-kata plesetan, Mondrian langsung banting setir. “Kami
memang cuma ikut-ikutan,” kata Hajar, terus terang.
Walau demikian, Dadung tidak kalah dalam hal pemasaran. Kecuali di
Yogyakarta, saat ini Dadung telah memiliki 150 outlet yang mencakup
Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Lombok. Menurut Dirut PT Mondrian Hari
Pramono, banyaknya outlet memang merupakan strategi Dadung menghadapi
para pesaing. Kalau Dagadu atau Joger lebih menjadi souvenir yang
hanya dapat diperoleh di kota tempat pembuatnya, “Kami lebih
menekankan kemudahan konsumen untuk memperoleh di kota masing-masing,”
ujarnya.
Hari memang cukup jeli. Soalnya, kalau Dadung mengandalkan kata-kata
yang diambil dari keunikan lokal Yogyakarta plus kata-kata lucu, boleh
jadi akan tergilas oleh Dagadu. Maklum, Dagadu sudah mematok Smile,
Smart, dan Djokdja sebagai moto bisnisnya. Beberapa kaos kata-kata
Dagadu yang lumayan banyak diminati antara lain United Colours of
Keraton dan Everyday is Sunday in Djokdja.
Sesuai motonya, Dagadu yang berdiri lima tahun lampau sengaja
mengenakan konsep pemasaran sebagai cindera mata Yogyakarta. Karena
itu, produsen kaos yang didirikan dengan modal awal Rp 4 juta itu
sengaja membatasi outlet-nya. Kini Dagadu bisa dijumpai di lantai
dasar Mal Malioboro yang diberi nama Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu)
dan di Jalan Pakuningratan yang mereka sebut sebagai UGD alias Unit
Gawat Dagadu. Yang terakhir ini dimaksudkan agar wisatawan yang segan
berbelanja ke Malioboro – lantaran macet – punya alternatif lain.

Semua pegawai harus ber-IPK 3,00

Satu hal yang unik dari kedua counter Dagadu adalah persyaratan bagi
pegawainya. Setiap calon pegawai harus berstatus mahasiswa yang
menguasai peta Yogyakarta, paham bahasa Jawa dan Inggris. Sudah
begitu, seperti halnya syarat yang dipatok perusahaan-perusahaan gede
Dagadu pun menetapkan IPK minimal. Bagi mahasiswa asal UGM IPK-nya tak
boleh kurang dari 2,75. Yang dari perguruan tinggi swasta harus 3,00.
Diskriminasi IPK itu bisa dipahami. Bukan apa-apa, Dagadu didirikan
oleh 25 mahasiswa Teknik Arsitektur UGM.
Syarat yang cukup berat, memang. Tapi jangan salah, meski cuma
menerima 10 pegawai setiap penerimaan, pelamarnya selalu membludak
hingga 500-an orang. Maklum, gajinya lumayan besar untuk ukuran
mahasiswa: Rp 200.000 sebulan. Dan setiap delapan bulan para pegawai
harus menanggalkan statusnya untuk kemudian dilempar kembali kepada
para pelamar.
Seperti halnya Dagadu, Cuk juga sengaja menampilkan tema-tema plesetan
khas Surabaya dan pantang melebarkan sayap ke kota-kota lain. “Kalau
dipasarkan ke kota lain, kami khawatir kekhasannya akan hilang,” kata
Wawan Setiawan, pemilik JCS.
Begitu lah. Kaos bersablon kata plesetan memang sedang in. Jadi, meski
persaingan terbilang cukup ketat, toh setiap produsen tidak takut
barang jualannya terlibas kaos-kaos sejenis.
Hayo, anak muda kota lain, samberlah peluang ini. Modalnya tak mahal,
kok. Yang penting kreatif. Katakanlah dengan kaos.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s